Friday, 7 June 2019

Perjalanan Panjang NUPTK

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) adalah identitas utama bagi guru yang diperlukan di setiap kali program yang berkaitan dengan pendidikan, termasuk soal tunjangan. Dengan memiliki NUPTK, artinya guru sudah punya lisensi sah. Kemanapun guru akan pindah tempat mengajar maka 'lisensi' itu akan tetap ada dan tidak berubah satu digitpun.


Buat saya yang tahun ajaran ini memasuki tahun kedelapan mengajar di sekolah formal, belum punya NUPTK adalah sesuatu yang wewww tidak seharusnya terjadi. Padahal menurut Peraturan Sekjen Kemendikbud RI Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Juknis Pengelolaan NUPTK, guru yang telah bertugas minimal 2 tahun secara terus menerus bisa mendapatkan NUPTK. Sayaaa menunggu sampai sekian tahun begini.

Tapi Alhamdulillah, Mei 2019 lalu akhirnya NUPTK saya bisa diterbitkan. Berasa lega dan heppiiiii banget ya, padahal cuma keluar NUPTKnya. Gimana nanti cair sertifikasinya yaaaa hahahaha, aamiin.

Ada cerita panjang sampai akhirnya NUPTK saya bisa rilis. Jadi sebelum guru mengajukan NUPTK, data diri dan riwayat mengajarnya harus diinput dengan lengkap dan benar di Dapodikdasmen. Harusnya wewenang Operator Sekolah yang menginput data guru dan bertugas memantau kapan guru tsb bisa mengajukan NUPTK, tentunya saat masa kerja nya mencukupi syarat yang ditetapkan pemerintah.

Pada awal mengajar saya masih buta banget soal beginian. Blank. Gak paham apa gunanya NUPTK dan otomatis gak peduli mau punya apa gak. Plus waktu itu di sekolah saya ini belum ada operator khusus yang paham soal dapodik gitu. Di tahun 2014 kalau gak salah, awal saya dan teman-teman dibantu oleh operator dari SD (dari yayasan yang sama dengan SMP tempat saya ngajar) untuk input data diri. Karna belum ada tenaga operator itulah maka guru-guru menginput sendiri datanya. Dulu namanya Padamu Negeri. 

Saat itu stuck sampai disitu aja. Sempat mau dibuatkan pengajuan NUPTK oleh operator sd tsb, ternyata jadwalnya sudah lewat, terlambat lah saya. Selang beberapa waktu mau coba lagi diajukan, nyatanya ada perubahan syarat yang tadinya minimal 2 tahun mengajar (dan jadi GTY) menjadi minimal 5 tahun. Sedihnyaaa T_T

Sejak itu terlupakan sudah oleh saya si NUPTK itu. Udah tambah mager lah buat ngurus. Karna yang semestinya pihak operator sekolah berperan besar disini, saya gak merasa terbantu minimal tentang informasi terkait NUPTK. Padahal setelah kabar "5 tahun" itu, ada operator di SMP dan sudah gak gabung dengan SD. Intinya karena pihak operator juga masih minim informasi dan pengalaman jadi ia pun gak bisa mengurus hal ini dengan sigap.

Belum rejeki saya lah. Cuma tetep geregetan sama pihak sekolah dan operator :(

Monday, 3 June 2019

Membuat SKCK Itu Mudah

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) diperlukan untuk berbagai hal, yang paling umum adalah untuk melamar pekerjaan. SKCK bisa dibuat di Polsek tingkat Kecamatan atau di Polres tingkat Kabupaten, tergantung keperluan yang akan dicantumkan pada SKCK tersebut.

https://twitter.com/polresbekasi

Pendidikan Profesi Guru (PPG) ternyata menjadikan SKCK sebagai salah satu berkas persyaratannya. Saya yang di pertengahan hingga akhir tahun 2018 lalu mengurus berkas pengajuan PPG, ikut serta membuat SKCK. Pas banget lah momennya dengan dibukanya pendaftaran CPNS. Jadi cukup deg-degan yaa waktu mengurus SKCK, sudah kebayang akan nguantrinyaaa dengan banyak orang.


Ngantri sih memang, tapi ternyata proses pembuatan SKCK gak seribet yang saya bayangkan. Sistem pendaftaran, pengumpulan berkas dan pembayaran sudah terorganisir dengan baik jadi memudahkan masyarakat yang ingin mengurus. Saya waktu itu butuh kurang lebih setengah hari kerja yaa, dari mulai mendaftar, mengumpulkan berkas, antri sidik jari, hingga menunggu SKCK jadi dan melegalisirnya. Kurang lebih 4 jam lah totalnya, termasuk dengan istirahat siang kurang lebih 1 jam.


SKCK sebagai persyaratan PPG dibuat di Polres. Saya membuatnya di Kepolisian Resort Metro Bekasi, di Cikarang Utara, Bekasi pada Oktober 2018 lalu.


Oya, persiapan berkas sebelum menuju loket akan menghemat waktu lho. Akan sangat membantu jika sebelum menuju Polres/Polsek semua persyaratan dilengkapi dulu. Jadi sambil menunggu nomor antrian dipanggil, berkas yang sudah disiapkan tinggal disusun saja.


Wednesday, 30 January 2019

Ekspektasi VS Realita Pernikahan

Pernah punya impian selangit tentang pernikahan dan kehidupan setelahnya? Bermimpi dapat pasangan ideal nan sempurna, mesra dengan pasangan sepanjang waktu, punya anak-anak pintar lagi menggemaskan, dan sekian mimpi lain yang indah. Setelah menikah, berapa poin impian yang terwujud? Lalu gimana menyikapi impian yang jauh dari harapan?

Saya termasuk yang punya impian tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga, ternyata suami pun punya impian yang serupa. Tapi hanya sebagian yang bisa kami wujudkan, minimal sampai menjelang tahun kelima pernikahan kami. Selebihnya, kami sadar bahwa perjuangan masih panjang!



Tuesday, 22 January 2019

Cabut Gigi Pakai BPJS

Dari sini

Bukan pakai alat pencongkelnya ya bu?? Hehe.

Saya punya ketakutan yang cukup parah sama yang namanya periksa gigi. Padahal gak pernah punya pengalaman menyeramkan sama dokternya, melainkan belum bisa mengontrol takut saya terhadap alat-alat dokter gigi yang selalu bikin sakit berasa semua gigi mau rontok.

Saat kecil saya jarang sekali mau diajak ke dokter gigi. Alhasil gigi saya tidak terawat, banyak juga yang berlubang. Jaman sekolah dulu pernah ditambal, tapi gak bertahan lama alias tambalannya copot. Setelah itu gak pernah saya periksa gigi lagi sampai beberapa waktu lalu terdorong untuk lebih aware sama kesehatan diri sendiri.

Berawal dari cerita teman perjuangan promil yang menyarankan gigi-gigi berlubang sebaiknya ditambal dulu sebelum mulai promil. Trus saya makin terganggu dengan karang gigi dan gigi berlubang yang semakin sering sakit. Akhirnya akhir tahun lalu bertekad mau ke dokter gigi.

Setelah mencari alternatif klinik gigi di sekitar Tambun, pilihan jatuh pada faskes 1 layanan BPJS yang saya dan suami punya. Kami baru setahun ini punya BPJS; dibuatkan sama kantor suami yang baru. Pengalaman sama BPJS juga masih nol. Makanya kami putuskan untuk periksa gigi pakai BPJS, itung-itung mencoba layanan kesehatan ini.

Monday, 21 January 2019

Cerita dari Kampung Inggris - Part 2

Seminggu berada di Kampung Inggris, Pare Kediri terasa menyenangkan buat saya, meskipun kegiatannya cenderung monoton. Tapi ada aja keseruan dan hal-hal baru yang saya temui disana. Maklum, kan ceritanya ini kunjungan kedua rasa perdana. Kunjungan jaman KKL dulu hanya sehari, jadi gak bisa yang mengamati daerah sekitar banget. Datang saat momen liburan seperti kemarin rasanya seru. Ramai, jadi suasana 'kampung Inggris'nya tempat pelajar berkumpul kerasa banget.

 

Lembaga

Saya mulai dari lembaga tempat SMPIT Islamia bekerjasama dulu ya, Arrohman English Center (AEC). Lembaga ini sudah bekerjasama dengan berbagai sekolah femes, kalo saya lihat dari banner yang dipampang di gerbang kantornya. Ini adalah rekomendasi dari sekolah Islam di sekitar Tambun, Bekasi juga. Testimoninya, program di lembaga ini dipadukan dengan kegiatan keIslaman jadi tidak akan menghilangkan ciri khas sekolah. Alasan lain kami memilih lembaga ini karna tempat belajarnya menyatu dengan penginapan sehingga kami gak perlu bolak-balik setiap mau berangkat belajar.

Sayangnya, kami telat reservasi tempat. Kemarin kami menginap di MM House & Resto, penginapan rekanan AEC. Sebetulnya AEC punya penginapan utama yang menyatu dengan kantor pusatnya. Tapi kami keduluan sekolah lain yang sudah reservasi di sana. Kabarnya kalau mau dapat tempat di AECnya untuk holiday program bulan Desember, sekolah sudah harus booking dari Januari. Uhuk. Betapa larisnya lembaga iniihhh....

Well MM House & Resto juga not bad. Hanya tempat belajarnya saja yang tidak kondusif karna gak ada ruang kelas khusus. Siswa belajar di aula, lorong di depan meja makan, dan depan kamar. Kurang pas untuk belajar kalau kata saya mah. Untuk kamar cukup lah, ada kipas angin dan kamar mandi di hampir setiap kamar. Makannya pakai sistem prasmanan. Nah kalau waktunya makan usahakan langsung makan deh. Kemarin saya sempat gak kebagian makan karna telat, keburu diberesin cuy meja makannya. Huh.

Tentang program, kami sepakat AEC sudah menyusun program belajar dengan cukup baik. Namanya cuma seminggu ya, jadi belum kerasa lah hasilnya yang siswa langsung jadi fluent gitu. Tapi at least ada semangat untuk speak up karna disana benar-benar di push untuk try speaking English. Alhamdulillah masih kebawa semangat ngomong Inggrisnya sampai di sekolah :)

Metode pembelajaran juga cukup beragam sih, misalnya: singing, clapping, saying with gesture, saying aloud the words, atau role play. Tutornya semangat, secara jiwa muda menggelora LOL. Materinya cukup sesuai sama materi sekolah, dan ada modul untuk pegangan materi siswa. Tutor disana menghandle semua kegiatan. Jadi siswa kami benar-benar dipegang sama tutor, termasuk kegiatan ibadah hariannya. Kami guru-guru bisa sesekali kasih 'wejangan' sih tapi rasanya tetap dominan para tutor. Pas lah kalau panitia guru yang ikut tidak perlu banyak orang, karna kita tidak begitu terlibat selama program belajar.

Sunday, 13 January 2019

Cerita dari Kampung Inggris

Kalau ditanya liburan sekolah dan akhir tahun lalu kemana aja, saya rada sensi. Lalu dengan sinis menjawab, apa itu liburan!?! Hahaha. 1 pekan dari 2 pekan liburan dihabiskan buat kerja, sepekan berikutnya diem dirumah karna pakSu masuk kerja. Jadilah bayangan indah liburan ke tempat-tempat wisata ina itu buyar. Plus kan lagi ngirit karna kepengen nabung.


Tapi seminggu kerja ngawasin bocah di Kampung Inggris Pare, Kediri bisa lah dianggap liburan juga. Kerja rasa liburan lah. Karna nuansanya kan beda dengan ketika kerja ngajar di sekolah.




Jadi tanggal 16 s.d. 22 Desember 2018 kemarin tuh saya ceritanya ngawal siswa kelas 8 SMPIT Islamia dalam rangka kegiatan English Camp. Awalnya sih worry yang gimana gitu lah tentang kegiatan ini karna perdana banget diadakan, bawa siswa banyak plus tempatnya jauh pula dan waktunya lama. Tapi nyatanya Alhamdulillah semua lancar jaya (thanks to Allah SWT) dan kegiatannya bisa meninggalkan kesan indah yang bikin susah move on.


Satu tahun loh kami para panitia berjuang ‘mewujudkan’ kegiatan ini. Yang awalnya ditujukan bagi siswa kelas 8 tahun 2017 lalu, nyatanya ada berbagai hambatan sehingga terpending hingga kelas 8 tahun 2018 ini. Alhamdulillah, Allah Maha Baik memudahkan rencana kami (pihak sekolah dan panitia) memboyong 84 siswa untuk merasakan suasana baru dalam belajar di Kampung Inggris, Pare Kediri.




Ini merupakan satu alasan yang membuat kegiatan ini memberikan kesan yang lain bagi saya. Persiapan yang panjang, realita di tempat yang tidak sesuai ekspektasi, bahkan kealpaan-kealpaan panitia dalam beberapa hal teknis menjadi pembelajaran yang amat berharga bagi saya khususnya. Di sana pun bukan hanya siswa yang belajar. Kami para guru juga mendapat pembelajaran dari pengamatan dan pengalaman.

Agustus 2018

Orang tua siswa kelas 8 diundang dalam rapat yang membahas kegiatan English Camp. Alhamdulillah, orang tua siswa merespon positif kegiatan ini. Panitia pun bergerak merencanakan kegiatan dengan lebih detil. Yayasan menyetujui dan menaruh harapan besar pada kegiatan ini; agar ada peningkatan keterampilan siswa dalam penggunaan bilingual di sekolah setiap harinya.

September s.d. November 2018

Orang tua siswa mulai menyicil pembayaran. Siswa semakin antusias menghadapi kegiatan. Panitia semakin sibuk :)
Diantara kerempongan panitia, khususnya ketua-sekretaris-bendahara adalah:
  • Berkomunikasi dengan lembaga belajar yang akan menyediakan pembelajaran sekaligus penginapan (karena survey langsung sudah dilakukan pada tahun sebelumnya, untuk tahun 2018 kami hanya berkomunikasi via telp, WA atau email)
  • Memesan tiket kereta rombongan dan memastikan kami bisa naik dan turun kereta di Stasiun Bekasi (ini cukup menguras tenaga dan waktu karena harus beberapa kali mengunjungi Daop 1 di Stasiun Cikini hingga koordinasi dengan penanggung jawab di Stasiun Bekasi)
  • Mengingatkan orang tua siswa untuk menyelesaikan administrasi kegiatan (hehe yang ini agak sensitif yaaa, tapi karna terdesak untuk memberikan down payment pada lembaga, maka para wali kelas maupun manajemen sekolah terus woro-woro orang tua siswa)
  • Menyusun administrasi kesekretariatan: surat edaran, pembagian kelompok siswa, daftar hadir siswa dan panita, dsb (secara yaaa saya selaku sekretaris gak ingin bawa laptop kesana, jadi prepare banget sebisa mungkin jangan ada format-format yang tertinggal hehe)
  • Briefing siswa mengenai pembagian kelompok, perlengkapan, hingga teknis keberangkatan dan kepulangan



Friday, 28 December 2018

Takdirmu, yang Terbaik Untukmu

Judulnya beraattt yaaa pemirsah. Tapi isi tulisannya simpel sih, intinya pesan untuk diri sendiri akan hikmah segala takdir di 2018 dan apapun yang akan dihadapi di 2019.

Berawal dari ingatan tentang sebagian kecil cerita dalam novel I am Sarahza karya mbak Hanum Rais itu. Di masa-masa sulit yang Ia alami dan gambarkan dalam novelnya, mbak Hanum sempat berkata pada suaminya yang kurang lebih isinya: mengapa kebahagiaan memiliki anak hanya diberikan pada wanita-wanita lain, yang diantara mereka ada yang bahkan tidak mengharapkan kehadiran anak; mengapa titipan anak tidak diberikan pada Hanum, yang dengan usaha kerasnya sangat menginginkan buah hati. Sampai disini saya terbawa emosi yang dibangun Hanum, karena toh sering kali saya merasakan hal yang sama terutama bila menyangkut tentang anak.

Dengan bijaknya Rangga menanggapi: andai Hanum membalik semua sudut pandang dan pertanyaannya, bahwa mengapa kebahagiaan dalam hal karir, ketenaran, finansial tidak menghinggapi wanita-wanita di luar sana yang mungkin sudah berusaha keras menjadi penulis terkenal berharap bukunya menjadi best seller seperti Hanum; mengapa kesuksesan itu malah diberikan pada Hanum yang tidak serta merta berharap bukunya akan laris manis di pasaran. Dan di bagian ini, saya tersadar dan salut dengan sosok Rangga yang bisa melihat suatu hal dari sudut pandangan berbeda, sudut pandang yang lebih positif pastinya.

Itulah hidup, itulah saya. Yang selama ini hanya memandang takdir saya dari sisi negatifnya terutama tentang harapan mendapatkan anak :(

Tapi ajaib, penggalan cerita di novel I am Sarahza seperti yang tertulis di atas terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Betapa bodoh dan ruginya saya bila hanya terpaku pada kesedihan akan satu takdir yang saya idam-idamkan (punya anak) yang justru membawa saya pada keputusasaan. Sedangkan ribuan takdir baik selama ini juga terjadi pada saya. Bila ingatan tentang hal ini muncul, rasa sedih, malu, kesal akan pertanyaan pada diri sendiri "kapan saya punya anak?" akan perlahan terganti dengan bayangan akan nikmat-nikmat Allah yang tak putusnya pada saya.