Tuesday, 5 July 2022

Registrasi BSI Mobile Banking

Buat saya, memiliki mobile banking adalah suatu kebutuhan. Awalnya karena butuh banget untuk menunjang transaksi online shop saya. Tapi kini meski sudah tidak jualan seaktif dulu, saya tetap merasa terbantu dengan adanya akun mBanking tersebut.

Transaksi yang biasa saya lakukan lewat mBanking antara lain:

  • Beli pulsa & token listrik
  • Bayar shopee (lumayan jadi gak ada biaya transfer)
  • Transfer untuk kebutuhan hidup #eeaaa
  • Transfer untuk donasi

Setelah punya mBanking BRI selama beberapa tahun, belum lama ini saya tergoda registrasi mobile banking BSI (Bank Syariah Indonesia). Alasannya : untuk mengurangi biaya transaksi transfer.

BSI kan merger bank-bank BUMN syariah ya. Kalo dulu mereka masih berdiri sendiri-sendiri, saya pasrah kalo harus kena biaya transfer antar bank terus : rekening saya BSM harus transfer ke BRI Syariah, atau BSM ke BNI Syariah. Yaudahlah ya kena biaya tambahan mau gimana lagi.

Tapi sejak BSI ada, beberapa sasaran transfer saya menjadi lebih ringkes kan: BSI aja. Seneng karna sama bank nya so gak ada biaya transfer. Masalahnya, gerai ATM BSI di wilayah tempat tinggal saya jarang ditemui. Jauh, gak efisien. Sekalinya ada 1 yang deket & strategis, mesin nya suka eror. Zzzz. Akhirnya bulat sudah tekad saya untuk registrasi mobile banking.

Dan ternyataaaa, daftar mBanking BSI bisa dilakukan tanpa harus datang ke kantor cabang. Cukup download aplikasi mBanking nya, lalu sediakan pulsa. Kita bisa hubungi Call Center BSI untuk registrasi dan minta kode aktivasi mBanking. Kalo beruntung, 1x dapat kode aktivasi sudah bisa berhasil. Prosesnya juga cepat.

Tuesday, 16 November 2021

"KENAPA MENJADI GURU?"

Menjadi guru adalah cita-cita pertama saya, yang terbayang saat kelas 1-2 SD dulu. Sebabnya, saya melihat guru adalah sosok yang keren; karena bisa membuat saya memahami dan menguasai hal-hal baru. Guru-guru kelas saya selalu mengajar dengan sabar, bersikap ramah, bersahabat, dan tegas.

Pada masa itu, saya merekam semua kalimat dan gaya mengajar guru saya. Sepulang sekolah, saya langsung berperan jadi guru, mempraktikkan apa yang guru saya lakukan di sekolah. Iya, saya jadi guru-guruan yang menulis di papan tulis (ada papan tulis di rumah), menunjuk 'murid-murid' (khayalan) untuk menjawab soal, membagikan buku-buku untuk para 'murid'.
Seabsurd itu memang saya dulu 😁
Semakin besar, cita-cita mulia jadi seorang guru sempat berganti-ganti dengan yang lain. Sampai akhirnya di penghujung SMA, orangtua memberikan pencerahan agar saya menempuh jurusan kependidikan.
Orangtua saya bukan seorang guru, namun mereka mengarahkan saya menjadi guru karena betul-betul memikirkan masa depan saya. Dalam nasihatnya mereka menyebutkan bahwa menjadi seorang guru berarti memiliki kesempatan untuk berbuat baik dan memberikan manfaat bagi orang lain. Kebaikan yang guru sampaikan pada anak didiknya bisa menjadi amal jariyah. Ilmu yang diamalkan dan disampaikan lagi pada anak didik bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.
Dari nasihat-nasihatnya, jelas orangtua saya mengarahkan saya pada kepentingan akhirat, selain manfaat duniawi yang bisa juga didapatkan. Menjadi guru berarti memiliki waktu yang lebih fleksibel, sehingga kelak ketika sudah berkeluarga saya masih punya banyak waktu dengan keluarga.
Saat itu saya baru teringat lagi akan cita-cita Dessy kecil menjadi seorang guru. Bismillah, dengan do'a dan ridho orangtua saya mantap memilih jurusan pendidikan kelak mengabdi sebagai seorang guru.

Tapi….
Keyakinan ini tergoyahkan dengan kondisi keluarga yang bisa dibilang tidak ada penghasilan tetap.

Monday, 12 July 2021

Catatan dari PPDB SMAN Jabar 2021

Tahun pelajaran ini adalah kali kedua saya menjadi wali kelas 9. Sudah menjadi hal yang umum bila menjadi walas kelas akhir berarti siap mendampingi ananda sampai ke jenjang sekolah berikutnya.

Auto paling sibuk deh para walas 9 ini, karena drama tugas yang tak berkesudahan: menjadi panitia kegiatan Ujian Sekolah, merekap nilai rapot semester 1-5, mengolah nilai semester 6, menginput nilai rapot semester 6 & mengolah nilai ijazah, menjadi panitia kegiatan wisuda, sampai yang terakhir mendampingi siswa yang akan mendaftar ke SMA/K negeri.

Beruntung, urusan terkait SKL (Surat Keterangan Lulus) dan SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) dihandle oleh Wakasek Kurikulum. Jadi para walas tinggal membagikannya saja :)



Berbeda dengan pengalaman pertama menjadi wali kelas 9 dulu dimana saya tidak terlibat secara langsung dalam pendaftaran ke sekolah negeri, di tahun ini kami para walas mendapat tugas membantu siswa selama kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK Negeri.

Meskipun sebetulnya proses pendaftaran cenderung lebih mudah dari zaman dulu -sekarang pendaftaran full secara online- ada saja orangtua atau siswa yang kesulitan; atau sekedar merasa tidak yakin saat mau mendaftar. "Takut salah klik atau pencet tombol," katanya.

Alhasil, sejak PPDB SMA/K Negeri tahap 1 dibuka tanggal 7 Juni 2021 lalu, para walas berganti peran menjadi Mas dan Mbak CS yang siap sedia menghadap laptop dan menghubungi siswa/orangtua siswa layaknya sedang merayu para nasabah.

Siswa putri kebanyakan dipandu melalui telp untuk pendaftarannya, sementara siswa putra memilih datang langsung ke sekolah untuk ketemu walasnya. Ada juga yang datang bersama orangtua, lengkap dengan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk diupload.

Saya yang pegang kelas putri, di hari pertama pendaftaran tahap 1 menghubungi 17 siswa baik untuk memandu atau sekedar memastikan persyaratan mereka lengkap dan mereka sudah berhasil mendaftar.

Buat saya yang baru pertama ikut kegiatan seperti ini, wow ribet dan melelahkan. Tapi saya justru belajar banyak dari proses PPDB ini. Dan karena partner walasnya pun asik, jadi yah sedikit berkurang penat dan lelahnya :')

Wednesday, 7 July 2021

Wrap Up: Januari - Juni 2021

Jika seorang bookstagram atau bookblogger akan membuat postingan Wrap Up setiap bulan, biarkan saya yang bukan keduanya memborong sekaligus dalam rentang 6 bulan alias setengah tahun.


Sejak awal tahun 2021, saya tidak merancang target jumlah buku yang harus dibaca dalam setahun. Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang berturut-turut saya pasang target 24 buku dalam setahun. Yes, artinya cuma 2 buku saja tiap bulannya. Target dua tahun belakangan yang tidak tercapai dengan baik membuat saya lebih santuy dalam membaca di 2021, sehingga tidak memasang target apapun.

Kesibukan di hari-hari sekolah yang KBMnya hampir 70% dilaksanakan secara daring menjadi alasan saya jauh dari kegiatan membaca. Baru di pertengahan tahun 2021 tepatnya menjelang libur akhir tahun ajaran, kegiatan membaca menemukan kembali gairahnya. Hal ini berulang setiap tahun kok. Saat liburan apalagi masa pandemi yang membuat gak bisa kelayaban kemana-mana saya baru akan merasa butuh kegiatan berfaedah, apalagi kalo bukan membaca.

So here is the wrap up selama setengah tahun 2021:

  1. MARYAM karya Okky Madasari. Tertarik saat membaca sinopsisnya di iPusnas. Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan. Maryam dan keluarganya menganut agama yang menjadi mayoritas di negeri ini, namun mereka tidaklah sama. Setidaknya itu yang orang-orang bilang tentang Maryam.

  2. ENTROK karya Okky Madasari. Setelah menikmati tulisan Mbak Okky di novel 86 dan Maryam, saya penasaran dengan bukunya yang lain. Entrok lah yang terpilih setelah membaca review para bookstagram. Kisah hidup Marni dan anaknya, Rahayu rumit sekaligus menarik untuk diikuti sampai habis. Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun asing bagi satu sama lain. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa ada titik temu. Kerumitan kisah hidup kedua wanita ini dimulai dari sebuah Entrok, yang baru saya tau artinya setelah membaca novel ini.

Monday, 4 January 2021

PPG Dalam Jabatan 2020

Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG Daljab) adalah program yang saya tunggu-tunggu sepanjang tahun 2019. Setelah lulus pretes tahun 2018, saya mengajukan persyaratan PPG yang akan dilaksanakan pada 2019.

Namun dari angkatan 1 hingga 5 nama saya belum juga tercantum sebagai peserta. Alhasil di akhir tahun tersebut saya mengajukan kembali persyaratan PPG ke dinas pendidikan kabupaten Bekasi, Alhamdulillah berkas masih diterima setelah saya ketar ketir karena menyerahkan di hari terakhir pemberkasan.

Ketika awal tahun 2020 diwarnai kehebohan dan kecemasan terkait pandemi Covid-19, saya merasa hopeless dengan PPG ini. Waktu itu dalam bayangan saya, ketika banyak program yang dicanangkan harus ditunda atau bahkan dibatalkan, mungkin salah satunya adalah PPG.

Tapi saya salah. Bulan Juni 2020 saya mulai mendapat info kembali tentang PPG, dan Alhamdulillah tak disangka nama saya muncul sebagai peserta PPG Daljab 2020 Angkatan 1! What a surprise! Disaat saya pasrah tidak menunggu-nunggu, kejutan itu datang.

Sunday, 3 January 2021

2020 Dalam Cerita

2020 adalah tahun yang istimewa, ada perubahan-perubahan besar yang dialami sepanjang tahun ini. Bukan hanya oleh saya, tapi juga oleh manusia di jagat raya. Pandemi Covid-19 menjadi headline di seluruh dunia sejak akhir tahun 2019, dan menjadi momok menakutkan bagi rakyat Indonesia sejak kasus ini ditemukan pertama kali di negeri ini pada awal 2020. Sejak itu, semua tak lagi sama. Saya dan berjuta orang di luar sana dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi. 

Di penghujung tahun 2020, saya berusaha menghimpun serpihan-serpihan cerita hidup saya sepanjang tahun ini. Bukan hanya dampak pandemi Covid-19, ternyata ada juga momen-momen lain yang amat berkesan & ingin saya kenang sehingga ceritanya perlu saya tuangkan di sini :))

JANUARI

  • ((1)) Tahun 2020 diawali dengan hujan deras dalam waktu lama, sampai terjadi banjir dimana-mana, termasuk di tempat Ibu dan Mama. Alhamdulillah di tempat kami, banjir tidak berlangsung lama. Tapi kejadian ini meninggalkan kesan karena tahun baru yang sejatinya disambut sukacita, diiringi dengan ujian sesaat yang membawa derita.
  • ((16)) Bulan ini, Mbah Seno -kakak Mbah Putriku- meninggal. Agak menyesal ketika terakhir kali saya pulang ke kampung halaman pertengahan 2019 belum menyempatkan diri silaturahmi kesana, jadi sudah cukup lama saya tidak berjumpa dengan beliau. :((
  • ((18-19)) Setahun tidak menjabat sebagai manajemen, saya masih diikutsertakan dalam kegiatan Rapat Kerja Yayasan beserta seluruh elemen manajemen dan pegawai SIT Islamia. Raker dilaksanakan di Bandung selama 2 hari. Alhamdulillah program kerja SMP dapat dipresentasikan dengan baik, dan saya bisa ikut liburan singkat di objek wisata viral yang saat itu belum lama dibuka: the Great Asia Africa, Lembang.
  • ((25-26)) Menjadi Ketua Panitia pada kegiatan Perkemahan Sabtu Ahad (Persahad) untuk siswa kelas VII. Ini momen berkesan karena pertama kalinya saya menjabat ketua pada kegiatan kesiswaan di sekolah, jadi masih amat canggung dan bingung. Sebelumnya saya terbiasa memimpin kegiatan di ranah kurikulum, yaitu seputar kegiatan ujian. Maka pengalaman ini menjadi sangat berharga.
FEBRUARI

  • ((20)) Pade Heru -kakak kedua Mama- meninggal dunia, dengan musabab sakit. Awalnya saya langsung merencanakan pulang kampung mengajak Mama dan Bapak. Namun karena satu dan lain hal, kami urung pulang. :(( Sedihnya, beliau yang dulu mengurus saya semasa kecil ketika Mama kerja. Dulu Mama sering cerita betapa beliau telaten mengurus Dessy kecil. Semoga Allah tempatkan beliau di jannahNya, Aamiin.
  • ((28-29)) Saya dan suami tes SKD CPNS untuk pertama kali nya. Kami mendaftar di kementerian yang sama, sehingga Alhamdulillah mendapat lokasi tes yang sama, daerah Buah Batu Bandung. Jadwal kami pun berdekatan karena disusun berdasarkan abjad para pelamar. Hasilnya? Alhamdulillah kami lulus SKD, nilai kami melampaui passing grade yang ditetapkan. Not bad lah untuk kami yang pertama kali nya ikut tes ini. Namun kami belum lolos ke tahap SKB, karena kalah peringkat :)

Wednesday, 11 March 2020

Menutup Polis Asuransi? Begini Caranya

2015 lalu adalah awal saya didaftarkan suami dalam asuransi, Prudential. Kami terdaftar sebagai nasabah untuk asuransi kesehatan, dengan premi Rp. 350.000 per bulan. Dari awal diniatkan untuk nabung sih, karna Alhamdulillah kami tidak pernah menderita sakit berat. In case ada pengobatan yang diperlukan, bisa untuk cadangan juga.

Akhir tahun lalu setelah diskusi panjang, saya dan suami sepakat menutup polis asuransi kami. Iya betul, kami sudah bulat tekadnya untuk berhenti dari Prudential. Dan Alhamdulillah terealisasi lah di awal tahun 2020 ini.

Dalam prosesnya kami sangat terbantu dengan pelayanan dari Prudential, karna tidak ada birokrasi yang sulit dan pegawainya melayani dengan ramah.

Sumber dari sepulsa.com

Tuesday, 10 March 2020

Mudahnya Perpanjang SKCK

Masa berlaku Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) adalah 6 bulan. Artinya, bila masih diperlukan, SKCK asli harus selalu diperpanjang setiap 6 bulan.

Bila masa perpanjangan dilakukan maksimal 1 tahun dari masa berakhirnya, SKCK bisa diperpanjang seperti biasa, dengan melengkapi adaministrasi untuk perpanjang. Namun bila lewat dari 1 tahun, perlu ada proses pembuatan SKCK yang baru, tentunya dengan administrasi pembuatan SKCK baru.

SKCK saya, masa berlakunya berakhir pada bulan April 2019. Namun saya baru sempat perpanjang di bulan September 2019 kemarin. Syarat administrasi yang diperlukan sangat mudah, prosesnya pun sangat cepat. Karna ibaratnya pihak kepolisian hanya perlu menyalin ulang data dan mengganti titimangsa serta masa berlaku nya saja.

Siapkan Persyaratan


Persyaratan yang diperlukan benar-benar seperti yang tercantum pada gambar di bawah ini saja. Saya yang sudah menyiapkan persyaratan seperti pembuatan SKCK baru malah dikomen petugasnya, "Ini gak usah sebanyak ini Bu syaratnya." Oke baiklah.



Alur Perpanjang SKCK


Monday, 8 July 2019

Cerita Tidak Biasa Tentang Orang-Orang Biasa

Orang-orang Biasa yang dimaksud adalah novel terbaru karya Pak Cik Andrea Hirata. Bercover kuning mentereng, menarik perhatian saya waktu novel ini diluncurkan. Apalagi dalam resensinya novel ini digadang-gadang jadi karya seorang Andrea Hirata yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.

Dok.pribadi

Adalah kisah kehidupan masyarakat Belantik yang damai dan tentram tanpa gangguan kejahatan. Sampai dua tokoh polisi yang loyal dengan pekerjaannya hampir kehilangan jiwa 'polisi'nya saking tidak pernah menemukan penjahat di sana.

Di tempat berbeda ada sepuluh anak sekolah yang kerap terpinggirkan bahkan mendapat penindasan dari kawan mereka karena fisik dan kemampuan akademiknya. Ketidakberuntungan berlanjut hingga mereka dewasa, dan membuat mereka jadi orang-orang biasa yang tidak dilirik apalagi diperhitungkan keberadaannya.

Namun tak disangka, sepuluh sekawan ini lah yang pada kemudian hari menjalankan aksi menegangkan; tak tanggung-tanggung kejahatan yang mereka lakukan pertama kali dalam hidup: perampokan bank! Dan cerita tidak biasa tentang orang-orang biasa ini pun dimulai.

Monday, 1 July 2019

Mendadak Mudik

Satu rencana yang tidak terlintas dalam agenda liburan panjang saya adalah mudik. Idul fitri tahun-tahun lalu saya mudik ke kampung suami (Cirebon-Kuningan), tapi jauh sebelum Ramadhan suami bilang lebaran tahun ini kami gak akan mudik ke kampungnya. Mudik ke kampung saya (Purwokerto) pun rasanya tidak akan masuk dalam agenda karena orang tua saya paling anti mudik saat lebaran; karena padatnya semua moda transportasi dan lalu lintas serta rumah Bulik ku tempat kami biasa menginap pun penuh dengan keluarga yang mudik.

Tapi, tetiba tercetus saja ide mudik ke kampung saya waktu Mama saya sadar liburan idul fitri & sekolah saya cukup puanjaaang. Beliau mengajak saya mudik sehabis lebaran. Tujuannya silaturahmi dan mengisi waktu liburan yang panjang, karna di benaknya terbayang saya akan bosan liburan panjang tanpa kegiatan, pun ditinggal suami yang sudah harus masuk kantor.

Setelah minta izin suami dan cerita ke mertua, okelah saya dapat izin buat mudik sama Mama dan Royan (keponakan saya, anak pertama adik saya) dengan diantar Bapak. Baru nanti suami dapat tugas menjemput saya seminggu kemudian. Saya mudik cuma seminggu, karna ada 1 hari harus masuk sekolah sebelum libur lagi, jadi gak bisa bablas mudik sampai 2 minggu. Btw kesian suami juga lama-lama ditinggal, sayapun tak kuat menahan rinduuuu hahahaha.

Alun-Alun Purwokerto

Kami berangkat mudik ke Purwokerto (PWT) naik kereta.

Kalau 2 tahun lalu pernah ke PWT naik kereta Serayu sama teman-teman, kemarin kami pilih kereta yang agak manusiawi dari sisi lama waktu perjalanan. Hahaha. Bapak rekomendasikan kereta ekonomi Jaka Tingkir yang hanya menempuh waktu 5 jam dari Senen-PWT. Jauh lebih singkat dibanding Serayu yang sampai 12 jam karna lewat jalur Selatan.

Pas berangkat, tiketnya seharga 135ribu, untuk anak diatas 3 tahun bayar tiket. Waktu pulang saya naik kereta yang sama namun harganya beda, yaitu 180rb PWT-Senen tapi turun di St. Bekasi. Entah itu harga biasa atau harga libur lebaran ya, tapi so far masih terjangkau.

Rencana kami sesampainya disana pasti mau silaturahmi dong karna banyak keluarga disana, wisata kuliner, sama plesiran.

Tuesday, 11 June 2019

Haha Hihi Sama Temen Lama

Satu hal yang saya nantikan di Idul Fitri 1440 H ini adalah rencana pertemuan dengan teman-teman SMA. Gak semua sih, hanya 4 teman yang memang dekat dari semasa sekolah. Rencana ini spontan saja awalnya, tapi lalu direncanakan dan Alhamdulillah bisa direalisasikan, Senin 10 Juni kemarin.

Sebetulnya ini memang agenda tahunan (yang seringnya spontan) sih, kalau teman-teman saya ini mudik ke Tambun, kami suka kumpul. Maklum, kami sudah berpencar. Yang terjauh ada di Gorontalo, yang satu di Depok. Sisanya masih di Tambun tapi tak pernah ketemu kalau gak diagendakan begini hehehe. Lebaran jadi momen pas karna biasanya kami mudik dan libur di waktu yang hampir bersamaan.

Tapi setelah sekian tahun, baru tahun ini kami sengaja mengagendakan kumpul dengan formasi lengkap. Bahkan saya buat grup WA khusus buat bahas pertemuan ini. Diawali dengan list jadwal lebaran masing-masing, baru kami tentukan tanggal yang pas, yang kosong dari agenda silaturahmi dan rekreasi.

Lalu bahas tempat, yang kami sepakati gak di rumah salah satu diantara kami, tapi di Solaria Metland Tambun. Awalnya saya yang mengusulkan ketemuan di Metland karena ini titik tengah dari tempat tinggal masing-masing, adanya di jalan strategis pula. Tercetus Solaria karena saya cuma inget ada 2 tempat makan femes di gerbang Metland, yaitu Solaria dan KFC. Awal menyebut dua nama tempat ini sebenarnya hanya usulan, option gitu, tapi langsung disetujui sama yang lain. Giliran ada yang gak enak nya dengan tempat ini, saya yang diprotes hahahaha. But never mind lah.

Balik ke cerita ketemuan ini. Sepulang dari pertemuan singkat yang cuma 3 jam tapi gak kerasa karna obrolan ngalir terus ngalor ngidul, saya ngerasa hepi banget! Karena selain bisa menuntaskan rindu akhirnya bisa bertemu muka setelah selama ini hanya berjumpa lewat tulisan di WA, saya bisa lepas bercerita dan bicara disana.


Saturday, 8 June 2019

Rasanya Jadi Proktor (Lagi)

Istilah proktor baru saya kenal saat mencari informasi tentang UNBK tahun lalu. Ya, tahun lalu adalah pelaksanaan UNBK perdana di SMP IT Islamia, tempat saya mengajar. Kalau merujuk pada Prosedur Operasional Standar (POS) UN, proktor adalah pertugas yang diberi kewenangan untuk menangani aspek teknis pelaksanaan UNBK di ruang ujian. 

Saat ujian, proktor lah yang bertugas penuh dari pagi hari menyiapkan perangkat ujian (server, komputer client, sambungan internet) sebelum peserta ujian hadir hingga selesai nya ujian. Gak heran kalau proktor selalu ada di ruang ujian, duduk di balik komputer server yang CPU nya besar itu jadi sering disebut "kang jaga warnet" sama siswa-siswi. Hahahaha.

Ini tahun kedua saya jadi proktor UNBK di sekolah. Rasanya: jauh lebih nyaman, berasa "matang" dan mandiri karena udah punya background knowledge dan pengalaman tahun sebelumnya. Di kesempatan kedua ini rasanya saya udah gak mudah panik dan lebih kalem saat mendapati ada trouble pada komputer atau teknis ujian.

Baca juga pengalaman UNBK pertama kali: Serba-serbi UNBK 

Ruang ujian semakin padaaaattt

Kenapa saya bilang jadi lebih mandiri? Karena sudah gak bergantung sekali sama teknisi. Tahun lalu, saya mengandalkan banget teknisi di sekolah kami, Mr. Agus. Beliau lebih melek ICT kan ya, plus juga mengikuti pelatihan dari dinas pendidikan dari awal.

Tapi di tahun ini, sedari awal Mr. Agus secara tersirat seperti sengaja membiarkan saya bisa terjun langsung dari awal persiapan UNBK. Beliau cuma fokus untuk setting komputer, jaringan LAN dan internet serta masalah kelistrikan. Selebihnya tahap sinkronisasi sampai back up VHD (semacam aplikasi untuk ujiannya) ia percayakan pada saya, padahal tahun lalu beliau yang handle semua ini.

Meskipun ada hal-hal baru yang baru kami laksanakan di UNBK tahun ini, sebut saja setting Transfer Response (untuk back up jawaban siswa kalau-kalau ada kerusakan pada komputer server) pada dasarnya step by step teknis ujian masih sama seperti tahun lalu. Jadi kebanyakan saya tinggal mengingat-ingat apa yang dilakukan tahun lalu, buka dan baca lagi petunjuk dari web UNBK atau yang tahun lalu saya simpan, buka video-video tutorial di youtube. It helps me a lot.

Senengnya saya, kemarin saya bisa lebih enjoy menjalankan tugas sebagai proktor, karena sudah lebih paham celah pekerjaan yang menyita waktu atau yang cuma rutinitas. Juga bisa merasa less stressful meskipun datang lebih pagi dan pulang lebih sore selama ujian.

Friday, 7 June 2019

Perjalanan Panjang NUPTK

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) adalah identitas utama bagi guru yang diperlukan di setiap kali program yang berkaitan dengan pendidikan, termasuk soal tunjangan. Dengan memiliki NUPTK, artinya guru sudah punya lisensi sah. Kemanapun guru akan pindah tempat mengajar maka 'lisensi' itu akan tetap ada dan tidak berubah satu digitpun.


Buat saya yang tahun ajaran ini memasuki tahun kedelapan mengajar di sekolah formal, belum punya NUPTK adalah sesuatu yang wewww tidak seharusnya terjadi. Padahal menurut Peraturan Sekjen Kemendikbud RI Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Juknis Pengelolaan NUPTK, guru yang telah bertugas minimal 2 tahun secara terus menerus bisa mendapatkan NUPTK. Sayaaa menunggu sampai sekian tahun begini.

Tapi Alhamdulillah, Mei 2019 lalu akhirnya NUPTK saya bisa diterbitkan. Berasa lega dan heppiiiii banget ya, padahal cuma keluar NUPTKnya. Gimana nanti cair sertifikasinya yaaaa hahahaha, aamiin.

Ada cerita panjang sampai akhirnya NUPTK saya bisa rilis. Jadi sebelum guru mengajukan NUPTK, data diri dan riwayat mengajarnya harus diinput dengan lengkap dan benar di Dapodikdasmen. Harusnya wewenang Operator Sekolah yang menginput data guru dan bertugas memantau kapan guru tsb bisa mengajukan NUPTK, tentunya saat masa kerja nya mencukupi syarat yang ditetapkan pemerintah.

Pada awal mengajar saya masih buta banget soal beginian. Blank. Gak paham apa gunanya NUPTK dan otomatis gak peduli mau punya apa gak. Plus waktu itu di sekolah saya ini belum ada operator khusus yang paham soal dapodik gitu. Di tahun 2014 kalau gak salah, awal saya dan teman-teman dibantu oleh operator dari SD (dari yayasan yang sama dengan SMP tempat saya ngajar) untuk input data diri. Karna belum ada tenaga operator itulah maka guru-guru menginput sendiri datanya. Dulu namanya Padamu Negeri. 

Saat itu stuck sampai disitu aja. Sempat mau dibuatkan pengajuan NUPTK oleh operator sd tsb, ternyata jadwalnya sudah lewat, terlambat lah saya. Selang beberapa waktu mau coba lagi diajukan, nyatanya ada perubahan syarat yang tadinya minimal 2 tahun mengajar (dan jadi GTY) menjadi minimal 5 tahun. Sedihnyaaa T_T

Sejak itu terlupakan sudah oleh saya si NUPTK itu. Udah tambah mager lah buat ngurus. Karna yang semestinya pihak operator sekolah berperan besar disini, saya gak merasa terbantu minimal tentang informasi terkait NUPTK. Padahal setelah kabar "5 tahun" itu, ada operator di SMP dan sudah gak gabung dengan SD. Intinya karena pihak operator juga masih minim informasi dan pengalaman jadi ia pun gak bisa mengurus hal ini dengan sigap.

Belum rejeki saya lah. Cuma tetep geregetan sama pihak sekolah dan operator :(

Monday, 3 June 2019

Membuat SKCK Itu Mudah

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) diperlukan untuk berbagai hal, yang paling umum adalah untuk melamar pekerjaan. SKCK bisa dibuat di Polsek tingkat Kecamatan atau di Polres tingkat Kabupaten, tergantung keperluan yang akan dicantumkan pada SKCK tersebut.

https://twitter.com/polresbekasi

Pendidikan Profesi Guru (PPG) ternyata menjadikan SKCK sebagai salah satu berkas persyaratannya. Saya yang di pertengahan hingga akhir tahun 2018 lalu mengurus berkas pengajuan PPG, ikut serta membuat SKCK. Pas banget lah momennya dengan dibukanya pendaftaran CPNS. Jadi cukup deg-degan yaa waktu mengurus SKCK, sudah kebayang akan nguantrinyaaa dengan banyak orang.


Ngantri sih memang, tapi ternyata proses pembuatan SKCK gak seribet yang saya bayangkan. Sistem pendaftaran, pengumpulan berkas dan pembayaran sudah terorganisir dengan baik jadi memudahkan masyarakat yang ingin mengurus. Saya waktu itu butuh kurang lebih setengah hari kerja yaa, dari mulai mendaftar, mengumpulkan berkas, antri sidik jari, hingga menunggu SKCK jadi dan melegalisirnya. Kurang lebih 4 jam lah totalnya, termasuk dengan istirahat siang kurang lebih 1 jam.


SKCK sebagai persyaratan PPG dibuat di Polres. Saya membuatnya di Kepolisian Resort Metro Bekasi, di Cikarang Utara, Bekasi pada Oktober 2018 lalu.


Oya, persiapan berkas sebelum menuju loket akan menghemat waktu lho. Akan sangat membantu jika sebelum menuju Polres/Polsek semua persyaratan dilengkapi dulu. Jadi sambil menunggu nomor antrian dipanggil, berkas yang sudah disiapkan tinggal disusun saja.


Wednesday, 30 January 2019

Ekspektasi VS Realita Pernikahan

Pernah punya impian selangit tentang pernikahan dan kehidupan setelahnya? Bermimpi dapat pasangan ideal nan sempurna, mesra dengan pasangan sepanjang waktu, punya anak-anak pintar lagi menggemaskan, dan sekian mimpi lain yang indah. Setelah menikah, berapa poin impian yang terwujud? Lalu gimana menyikapi impian yang jauh dari harapan?

Saya termasuk yang punya impian tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga, ternyata suami pun punya impian yang serupa. Tapi hanya sebagian yang bisa kami wujudkan, minimal sampai menjelang tahun kelima pernikahan kami. Selebihnya, kami sadar bahwa perjuangan masih panjang!



Tuesday, 22 January 2019

Cabut Gigi Pakai BPJS

Dari sini

Bukan pakai alat pencongkelnya ya bu?? Hehe.

Saya punya ketakutan yang cukup parah sama yang namanya periksa gigi. Padahal gak pernah punya pengalaman menyeramkan sama dokternya, melainkan belum bisa mengontrol takut saya terhadap alat-alat dokter gigi yang selalu bikin sakit berasa semua gigi mau rontok.

Saat kecil saya jarang sekali mau diajak ke dokter gigi. Alhasil gigi saya tidak terawat, banyak juga yang berlubang. Jaman sekolah dulu pernah ditambal, tapi gak bertahan lama alias tambalannya copot. Setelah itu gak pernah saya periksa gigi lagi sampai beberapa waktu lalu terdorong untuk lebih aware sama kesehatan diri sendiri.

Berawal dari cerita teman perjuangan promil yang menyarankan gigi-gigi berlubang sebaiknya ditambal dulu sebelum mulai promil. Trus saya makin terganggu dengan karang gigi dan gigi berlubang yang semakin sering sakit. Akhirnya akhir tahun lalu bertekad mau ke dokter gigi.

Setelah mencari alternatif klinik gigi di sekitar Tambun, pilihan jatuh pada faskes 1 layanan BPJS yang saya dan suami punya. Kami baru setahun ini punya BPJS; dibuatkan sama kantor suami yang baru. Pengalaman sama BPJS juga masih nol. Makanya kami putuskan untuk periksa gigi pakai BPJS, itung-itung mencoba layanan kesehatan ini.

Monday, 21 January 2019

Cerita dari Kampung Inggris - Part 2

Seminggu berada di Kampung Inggris, Pare Kediri terasa menyenangkan buat saya, meskipun kegiatannya cenderung monoton. Tapi ada aja keseruan dan hal-hal baru yang saya temui disana. Maklum, kan ceritanya ini kunjungan kedua rasa perdana. Kunjungan jaman KKL dulu hanya sehari, jadi gak bisa yang mengamati daerah sekitar banget. Datang saat momen liburan seperti kemarin rasanya seru. Ramai, jadi suasana 'kampung Inggris'nya tempat pelajar berkumpul kerasa banget.

 

Lembaga

Saya mulai dari lembaga tempat SMPIT Islamia bekerjasama dulu ya, Arrohman English Center (AEC). Lembaga ini sudah bekerjasama dengan berbagai sekolah femes, kalo saya lihat dari banner yang dipampang di gerbang kantornya. Ini adalah rekomendasi dari sekolah Islam di sekitar Tambun, Bekasi juga. Testimoninya, program di lembaga ini dipadukan dengan kegiatan keIslaman jadi tidak akan menghilangkan ciri khas sekolah. Alasan lain kami memilih lembaga ini karna tempat belajarnya menyatu dengan penginapan sehingga kami gak perlu bolak-balik setiap mau berangkat belajar.

Sayangnya, kami telat reservasi tempat. Kemarin kami menginap di MM House & Resto, penginapan rekanan AEC. Sebetulnya AEC punya penginapan utama yang menyatu dengan kantor pusatnya. Tapi kami keduluan sekolah lain yang sudah reservasi di sana. Kabarnya kalau mau dapat tempat di AECnya untuk holiday program bulan Desember, sekolah sudah harus booking dari Januari. Uhuk. Betapa larisnya lembaga iniihhh....

Well MM House & Resto juga not bad. Hanya tempat belajarnya saja yang tidak kondusif karna gak ada ruang kelas khusus. Siswa belajar di aula, lorong di depan meja makan, dan depan kamar. Kurang pas untuk belajar kalau kata saya mah. Untuk kamar cukup lah, ada kipas angin dan kamar mandi di hampir setiap kamar. Makannya pakai sistem prasmanan. Nah kalau waktunya makan usahakan langsung makan deh. Kemarin saya sempat gak kebagian makan karna telat, keburu diberesin cuy meja makannya. Huh.

Tentang program, kami sepakat AEC sudah menyusun program belajar dengan cukup baik. Namanya cuma seminggu ya, jadi belum kerasa lah hasilnya yang siswa langsung jadi fluent gitu. Tapi at least ada semangat untuk speak up karna disana benar-benar di push untuk try speaking English. Alhamdulillah masih kebawa semangat ngomong Inggrisnya sampai di sekolah :)

Metode pembelajaran juga cukup beragam sih, misalnya: singing, clapping, saying with gesture, saying aloud the words, atau role play. Tutornya semangat, secara jiwa muda menggelora LOL. Materinya cukup sesuai sama materi sekolah, dan ada modul untuk pegangan materi siswa. Tutor disana menghandle semua kegiatan. Jadi siswa kami benar-benar dipegang sama tutor, termasuk kegiatan ibadah hariannya. Kami guru-guru bisa sesekali kasih 'wejangan' sih tapi rasanya tetap dominan para tutor. Pas lah kalau panitia guru yang ikut tidak perlu banyak orang, karna kita tidak begitu terlibat selama program belajar.

Sunday, 13 January 2019

Cerita dari Kampung Inggris

Kalau ditanya liburan sekolah dan akhir tahun lalu kemana aja, saya rada sensi. Lalu dengan sinis menjawab, apa itu liburan!?! Hahaha. 1 pekan dari 2 pekan liburan dihabiskan buat kerja, sepekan berikutnya diem dirumah karna pakSu masuk kerja. Jadilah bayangan indah liburan ke tempat-tempat wisata ina itu buyar. Plus kan lagi ngirit karna kepengen nabung.


Tapi seminggu kerja ngawasin bocah di Kampung Inggris Pare, Kediri bisa lah dianggap liburan juga. Kerja rasa liburan lah. Karna nuansanya kan beda dengan ketika kerja ngajar di sekolah.




Jadi tanggal 16 s.d. 22 Desember 2018 kemarin tuh saya ceritanya ngawal siswa kelas 8 SMPIT Islamia dalam rangka kegiatan English Camp. Awalnya sih worry yang gimana gitu lah tentang kegiatan ini karna perdana banget diadakan, bawa siswa banyak plus tempatnya jauh pula dan waktunya lama. Tapi nyatanya Alhamdulillah semua lancar jaya (thanks to Allah SWT) dan kegiatannya bisa meninggalkan kesan indah yang bikin susah move on.


Satu tahun loh kami para panitia berjuang ‘mewujudkan’ kegiatan ini. Yang awalnya ditujukan bagi siswa kelas 8 tahun 2017 lalu, nyatanya ada berbagai hambatan sehingga terpending hingga kelas 8 tahun 2018 ini. Alhamdulillah, Allah Maha Baik memudahkan rencana kami (pihak sekolah dan panitia) memboyong 84 siswa untuk merasakan suasana baru dalam belajar di Kampung Inggris, Pare Kediri.




Ini merupakan satu alasan yang membuat kegiatan ini memberikan kesan yang lain bagi saya. Persiapan yang panjang, realita di tempat yang tidak sesuai ekspektasi, bahkan kealpaan-kealpaan panitia dalam beberapa hal teknis menjadi pembelajaran yang amat berharga bagi saya khususnya. Di sana pun bukan hanya siswa yang belajar. Kami para guru juga mendapat pembelajaran dari pengamatan dan pengalaman.

Agustus 2018

Orang tua siswa kelas 8 diundang dalam rapat yang membahas kegiatan English Camp. Alhamdulillah, orang tua siswa merespon positif kegiatan ini. Panitia pun bergerak merencanakan kegiatan dengan lebih detil. Yayasan menyetujui dan menaruh harapan besar pada kegiatan ini; agar ada peningkatan keterampilan siswa dalam penggunaan bilingual di sekolah setiap harinya.

September s.d. November 2018

Orang tua siswa mulai menyicil pembayaran. Siswa semakin antusias menghadapi kegiatan. Panitia semakin sibuk :)
Diantara kerempongan panitia, khususnya ketua-sekretaris-bendahara adalah:
  • Berkomunikasi dengan lembaga belajar yang akan menyediakan pembelajaran sekaligus penginapan (karena survey langsung sudah dilakukan pada tahun sebelumnya, untuk tahun 2018 kami hanya berkomunikasi via telp, WA atau email)
  • Memesan tiket kereta rombongan dan memastikan kami bisa naik dan turun kereta di Stasiun Bekasi (ini cukup menguras tenaga dan waktu karena harus beberapa kali mengunjungi Daop 1 di Stasiun Cikini hingga koordinasi dengan penanggung jawab di Stasiun Bekasi)
  • Mengingatkan orang tua siswa untuk menyelesaikan administrasi kegiatan (hehe yang ini agak sensitif yaaa, tapi karna terdesak untuk memberikan down payment pada lembaga, maka para wali kelas maupun manajemen sekolah terus woro-woro orang tua siswa)
  • Menyusun administrasi kesekretariatan: surat edaran, pembagian kelompok siswa, daftar hadir siswa dan panita, dsb (secara yaaa saya selaku sekretaris gak ingin bawa laptop kesana, jadi prepare banget sebisa mungkin jangan ada format-format yang tertinggal hehe)
  • Briefing siswa mengenai pembagian kelompok, perlengkapan, hingga teknis keberangkatan dan kepulangan



Friday, 28 December 2018

Takdirmu, yang Terbaik Untukmu

Judulnya beraattt yaaa pemirsah. Tapi isi tulisannya simpel sih, intinya pesan untuk diri sendiri akan hikmah segala takdir di 2018 dan apapun yang akan dihadapi di 2019.

Berawal dari ingatan tentang sebagian kecil cerita dalam novel I am Sarahza karya mbak Hanum Rais itu. Di masa-masa sulit yang Ia alami dan gambarkan dalam novelnya, mbak Hanum sempat berkata pada suaminya yang kurang lebih isinya: mengapa kebahagiaan memiliki anak hanya diberikan pada wanita-wanita lain, yang diantara mereka ada yang bahkan tidak mengharapkan kehadiran anak; mengapa titipan anak tidak diberikan pada Hanum, yang dengan usaha kerasnya sangat menginginkan buah hati. Sampai disini saya terbawa emosi yang dibangun Hanum, karena toh sering kali saya merasakan hal yang sama terutama bila menyangkut tentang anak.

Dengan bijaknya Rangga menanggapi: andai Hanum membalik semua sudut pandang dan pertanyaannya, bahwa mengapa kebahagiaan dalam hal karir, ketenaran, finansial tidak menghinggapi wanita-wanita di luar sana yang mungkin sudah berusaha keras menjadi penulis terkenal berharap bukunya menjadi best seller seperti Hanum; mengapa kesuksesan itu malah diberikan pada Hanum yang tidak serta merta berharap bukunya akan laris manis di pasaran. Dan di bagian ini, saya tersadar dan salut dengan sosok Rangga yang bisa melihat suatu hal dari sudut pandangan berbeda, sudut pandang yang lebih positif pastinya.

Itulah hidup, itulah saya. Yang selama ini hanya memandang takdir saya dari sisi negatifnya terutama tentang harapan mendapatkan anak :(

Tapi ajaib, penggalan cerita di novel I am Sarahza seperti yang tertulis di atas terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Betapa bodoh dan ruginya saya bila hanya terpaku pada kesedihan akan satu takdir yang saya idam-idamkan (punya anak) yang justru membawa saya pada keputusasaan. Sedangkan ribuan takdir baik selama ini juga terjadi pada saya. Bila ingatan tentang hal ini muncul, rasa sedih, malu, kesal akan pertanyaan pada diri sendiri "kapan saya punya anak?" akan perlahan terganti dengan bayangan akan nikmat-nikmat Allah yang tak putusnya pada saya.

Saturday, 14 July 2018

Menyambut Tahun Ajaran Baru

Lusa adalah hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2018/2019. Ada sekolah yang baru akan melaksanakan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, ada pula yang sudah bersiap dengan kegiatan belajar mengajar. Sekolah tempat saya mengajar lebih awal melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah, jadi senin esok siap menyambut siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Dicopy dan edit dari sini
Menyambut tahun ajaran baru, pastilah butuh persiapan khusus. Tidak hanya siswa, guru juga harus menyiapkan banyak hal. Kalau siswa lebih ke persiapan teknis seperti kelengkapan buku-buku, atk, jadwal pelajaran, seragam, dll; persiapan guru mencakup hal yang lebih luas. Karna proses belajar mengajar setahun yang akan datang bergantung dari persiapan yang matang dari sekolah dan guru.

Saya dan teman-teman guru sudah 2 pekan lalu memulai berbagai persiapan; ini diantaranya. 

Menyiapkan Semangat Baru


Bukan cuma siswa dong yang semangat berangkat ke sekolah lagi, guru juga wajib menyiapkan semangat baru dalam menyambut tahun ajaran baru. Sepanjang tahun yang baru pasti akan ada hal-hal yang berbeda dari tahun sebelumnya kan, jadi pasti lah akan timbul semangat baru. Melihat wajah-wajah baru di kelas, mengampu pelajaran baru atau dapat seragam baru bisa memantik semangat baru, loh hahaha. Semangat baru dari guru insya Allah akan menular pada siswa, sehingga akan terbawa semangat dan motivasi baru dalam menjalani kegiatan belajar mengajar.

Menjelang akhir liburan kemarin misalnya, saya menggali cerita inspiratif dari buku dan blog guru-guru. Alhasil ada secercah harapan baru dan rasa optimis saya untuk menyambut tahun ajaran baru sebelum bertemu para siswa.