Saturday, 12 May 2012

Hikayat Anak Unta dan Induknya

Seekor anak unta yang mulai menyadari keberadaan dirinya dan keberadaan dunia, bertanya pada induknya: “Ibu, mengapa rambut di atas mataku ini lama-lama tumbuh semakin panjang saja, sehingga seringkali mengganggu penglihatanku?” Induk unta menjawab, “Oh anakku, rambut di atas matamu itu bermanfaat untuk menjaga matamu tetap bersih dan tidak kemasukan pasir apabila kamu berjalan di tengah-tengah badai pasir .” 

Si anak unta bertanya lagi, ”Ibu, mengapa telapak kaki-kakiku ini sedemikian lebar sehingga kerapkali menggangguku kalau aku bermain lari-lari dengan kawan-kawanku?” Si induk unta pun menjawab lagi, “Oh anakku, telapak kakimu yang tebal ini akan berguna kalau kamu berjalan di atas padang pasir sehingga  tidak mudah tenggelam dan terperosok ke dalam pasir-pasir yang halus.”
 
Si anak unta yang semakin penasaran mendengar jawaban-jawaban dari ibunya itu, kemudian bertanya lagi, “Ibu, mengapa punggungku ini tidak rata seperti punggung binatang-binatang lain, tapi ada punuknya?” Si induk unta dengan penuh sabar dan kasih sayang menjelaskan lagi pada anaknya, "Anakku, di bawah punuk punggungmu itu ada ruang untuk tempat kamu menyimpan cadangan air minum, sehingga kamu tidak akan cepat kehausan meskipun berjalan di tengah-tengah padang pasir berhari-hari tanpa minum seteguk air pun.”
 
Mendapatkan penjelasan yang panjang lebar dari induknya tersebut, si anak unta bukannya malah faham akan tetapi malah bingung dan tambah penasaran. Dia pun kemudian bertanya pada ibunya, "Tapi Ibu, kita kan tinggal di kebun binatang, bukan tinggal ditempat yang Ibu gambarkan seperti tadi. Dan Ibu pun tidak pernah mengajakku pergi ke luar dari tempat tinggal kita ini. Jadi, apa gunanya semuanya ini untuk diriku?" Sekarang giliran si Ibu unta yang menjadi bingung . . . .



Cerita di atas menyiratkan makna yang dalam, yakni betapa ironisnya kalau segala kelebihan yang diberikan Tuhan tersebut tidak dia pergunakan karena hidup mereka semata-mata hanya dihabiskan di kebun binatang.

Begitu pun manusia, yang seringkali mengabaikan karunia Alloh yang begitu besar dan banyaknya. Manusia (saya khususnya) kerap mengeluhkan kesulitannya tanpa memaksimalkan potensinya. Padahal, Allah telah mengukur kadar ujian bagi seorang hamba, yakni yang sepadan dengan potensinya. Kesimpulannya, tak akan berguna potensi dan kelebihan yang manusia dapat dari Allah bila tak digunakan menurut porsi yang pas, khususnya untuk mendatangkan maslahat bagi dirinya dan orang lain.

Thursday, 10 May 2012

Lajang

Ia bagai ilalang
tak kokoh saat bertemu angin
hanyut ringan kala disapa hujan
dan menggigil ketika dingin

Ia jemu sendiri
tapi tak mampu berlari
mengejar hidup impiannya
melepas riangnya waktu lajang

Ia tak sabar!
resah dan gundah menghampiri
mengharap sang rusuk kembali
menghapus sedihnya hingga pudar