Tuesday, 11 June 2019

Haha Hihi Sama Temen Lama

Satu hal yang saya nantikan di Idul Fitri 1440 H ini adalah rencana pertemuan dengan teman-teman SMA. Gak semua sih, hanya 4 teman yang memang dekat dari semasa sekolah. Rencana ini spontan saja awalnya, tapi lalu direncanakan dan Alhamdulillah bisa direalisasikan, Senin 10 Juni kemarin.

Sebetulnya ini memang agenda tahunan (yang seringnya spontan) sih, kalau teman-teman saya ini mudik ke Tambun, kami suka kumpul. Maklum, kami sudah berpencar. Yang terjauh ada di Gorontalo, yang satu di Depok. Sisanya masih di Tambun tapi tak pernah ketemu kalau gak diagendakan begini hehehe. Lebaran jadi momen pas karna biasanya kami mudik dan libur di waktu yang hampir bersamaan.

Tapi setelah sekian tahun, baru tahun ini kami sengaja mengagendakan kumpul dengan formasi lengkap. Bahkan saya buat grup WA khusus buat bahas pertemuan ini. Diawali dengan list jadwal lebaran masing-masing, baru kami tentukan tanggal yang pas, yang kosong dari agenda silaturahmi dan rekreasi.

Lalu bahas tempat, yang kami sepakati gak di rumah salah satu diantara kami, tapi di Solaria Metland Tambun. Awalnya saya yang mengusulkan ketemuan di Metland karena ini titik tengah dari tempat tinggal masing-masing, adanya di jalan strategis pula. Tercetus Solaria karena saya cuma inget ada 2 tempat makan femes di gerbang Metland, yaitu Solaria dan KFC. Awal menyebut dua nama tempat ini sebenarnya hanya usulan, option gitu, tapi langsung disetujui sama yang lain. Giliran ada yang gak enak nya dengan tempat ini, saya yang diprotes hahahaha. But never mind lah.

Balik ke cerita ketemuan ini. Sepulang dari pertemuan singkat yang cuma 3 jam tapi gak kerasa karna obrolan ngalir terus ngalor ngidul, saya ngerasa hepi banget! Karena selain bisa menuntaskan rindu akhirnya bisa bertemu muka setelah selama ini hanya berjumpa lewat tulisan di WA, saya bisa lepas bercerita dan bicara disana.


Saturday, 8 June 2019

Rasanya Jadi Proktor (Lagi)

Istilah proktor baru saya kenal saat mencari informasi tentang UNBK tahun lalu. Ya, tahun lalu adalah pelaksanaan UNBK perdana di SMP IT Islamia, tempat saya mengajar. Kalau merujuk pada Prosedur Operasional Standar (POS) UN, proktor adalah pertugas yang diberi kewenangan untuk menangani aspek teknis pelaksanaan UNBK di ruang ujian. 

Saat ujian, proktor lah yang bertugas penuh dari pagi hari menyiapkan perangkat ujian (server, komputer client, sambungan internet) sebelum peserta ujian hadir hingga selesai nya ujian. Gak heran kalau proktor selalu ada di ruang ujian, duduk di balik komputer server yang CPU nya besar itu jadi sering disebut "kang jaga warnet" sama siswa-siswi. Hahahaha.

Ini tahun kedua saya jadi proktor UNBK di sekolah. Rasanya: jauh lebih nyaman, berasa "matang" dan mandiri karena udah punya background knowledge dan pengalaman tahun sebelumnya. Di kesempatan kedua ini rasanya saya udah gak mudah panik dan lebih kalem saat mendapati ada trouble pada komputer atau teknis ujian.

Baca juga pengalaman UNBK pertama kali: Serba-serbi UNBK 

Ruang ujian semakin padaaaattt

Kenapa saya bilang jadi lebih mandiri? Karena sudah gak bergantung sekali sama teknisi. Tahun lalu, saya mengandalkan banget teknisi di sekolah kami, Mr. Agus. Beliau lebih melek ICT kan ya, plus juga mengikuti pelatihan dari dinas pendidikan dari awal.

Tapi di tahun ini, sedari awal Mr. Agus secara tersirat seperti sengaja membiarkan saya bisa terjun langsung dari awal persiapan UNBK. Beliau cuma fokus untuk setting komputer, jaringan LAN dan internet serta masalah kelistrikan. Selebihnya tahap sinkronisasi sampai back up VHD (semacam aplikasi untuk ujiannya) ia percayakan pada saya, padahal tahun lalu beliau yang handle semua ini.

Meskipun ada hal-hal baru yang baru kami laksanakan di UNBK tahun ini, sebut saja setting Transfer Response (untuk back up jawaban siswa kalau-kalau ada kerusakan pada komputer server) pada dasarnya step by step teknis ujian masih sama seperti tahun lalu. Jadi kebanyakan saya tinggal mengingat-ingat apa yang dilakukan tahun lalu, buka dan baca lagi petunjuk dari web UNBK atau yang tahun lalu saya simpan, buka video-video tutorial di youtube. It helps me a lot.

Senengnya saya, kemarin saya bisa lebih enjoy menjalankan tugas sebagai proktor, karena sudah lebih paham celah pekerjaan yang menyita waktu atau yang cuma rutinitas. Juga bisa merasa less stressful meskipun datang lebih pagi dan pulang lebih sore selama ujian.

Friday, 7 June 2019

Perjalanan Panjang NUPTK

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) adalah identitas utama bagi guru yang diperlukan di setiap kali program yang berkaitan dengan pendidikan, termasuk soal tunjangan. Dengan memiliki NUPTK, artinya guru sudah punya lisensi sah. Kemanapun guru akan pindah tempat mengajar maka 'lisensi' itu akan tetap ada dan tidak berubah satu digitpun.


Buat saya yang tahun ajaran ini memasuki tahun kedelapan mengajar di sekolah formal, belum punya NUPTK adalah sesuatu yang wewww tidak seharusnya terjadi. Padahal menurut Peraturan Sekjen Kemendikbud RI Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Juknis Pengelolaan NUPTK, guru yang telah bertugas minimal 2 tahun secara terus menerus bisa mendapatkan NUPTK. Sayaaa menunggu sampai sekian tahun begini.

Tapi Alhamdulillah, Mei 2019 lalu akhirnya NUPTK saya bisa diterbitkan. Berasa lega dan heppiiiii banget ya, padahal cuma keluar NUPTKnya. Gimana nanti cair sertifikasinya yaaaa hahahaha, aamiin.

Ada cerita panjang sampai akhirnya NUPTK saya bisa rilis. Jadi sebelum guru mengajukan NUPTK, data diri dan riwayat mengajarnya harus diinput dengan lengkap dan benar di Dapodikdasmen. Harusnya wewenang Operator Sekolah yang menginput data guru dan bertugas memantau kapan guru tsb bisa mengajukan NUPTK, tentunya saat masa kerja nya mencukupi syarat yang ditetapkan pemerintah.

Pada awal mengajar saya masih buta banget soal beginian. Blank. Gak paham apa gunanya NUPTK dan otomatis gak peduli mau punya apa gak. Plus waktu itu di sekolah saya ini belum ada operator khusus yang paham soal dapodik gitu. Di tahun 2014 kalau gak salah, awal saya dan teman-teman dibantu oleh operator dari SD (dari yayasan yang sama dengan SMP tempat saya ngajar) untuk input data diri. Karna belum ada tenaga operator itulah maka guru-guru menginput sendiri datanya. Dulu namanya Padamu Negeri. 

Saat itu stuck sampai disitu aja. Sempat mau dibuatkan pengajuan NUPTK oleh operator sd tsb, ternyata jadwalnya sudah lewat, terlambat lah saya. Selang beberapa waktu mau coba lagi diajukan, nyatanya ada perubahan syarat yang tadinya minimal 2 tahun mengajar (dan jadi GTY) menjadi minimal 5 tahun. Sedihnyaaa T_T

Sejak itu terlupakan sudah oleh saya si NUPTK itu. Udah tambah mager lah buat ngurus. Karna yang semestinya pihak operator sekolah berperan besar disini, saya gak merasa terbantu minimal tentang informasi terkait NUPTK. Padahal setelah kabar "5 tahun" itu, ada operator di SMP dan sudah gak gabung dengan SD. Intinya karena pihak operator juga masih minim informasi dan pengalaman jadi ia pun gak bisa mengurus hal ini dengan sigap.

Belum rejeki saya lah. Cuma tetep geregetan sama pihak sekolah dan operator :(

Monday, 3 June 2019

Membuat SKCK Itu Mudah

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) diperlukan untuk berbagai hal, yang paling umum adalah untuk melamar pekerjaan. SKCK bisa dibuat di Polsek tingkat Kecamatan atau di Polres tingkat Kabupaten, tergantung keperluan yang akan dicantumkan pada SKCK tersebut.

https://twitter.com/polresbekasi

Pendidikan Profesi Guru (PPG) ternyata menjadikan SKCK sebagai salah satu berkas persyaratannya. Saya yang di pertengahan hingga akhir tahun 2018 lalu mengurus berkas pengajuan PPG, ikut serta membuat SKCK. Pas banget lah momennya dengan dibukanya pendaftaran CPNS. Jadi cukup deg-degan yaa waktu mengurus SKCK, sudah kebayang akan nguantrinyaaa dengan banyak orang.


Ngantri sih memang, tapi ternyata proses pembuatan SKCK gak seribet yang saya bayangkan. Sistem pendaftaran, pengumpulan berkas dan pembayaran sudah terorganisir dengan baik jadi memudahkan masyarakat yang ingin mengurus. Saya waktu itu butuh kurang lebih setengah hari kerja yaa, dari mulai mendaftar, mengumpulkan berkas, antri sidik jari, hingga menunggu SKCK jadi dan melegalisirnya. Kurang lebih 4 jam lah totalnya, termasuk dengan istirahat siang kurang lebih 1 jam.


SKCK sebagai persyaratan PPG dibuat di Polres. Saya membuatnya di Kepolisian Resort Metro Bekasi, di Cikarang Utara, Bekasi pada Oktober 2018 lalu.


Oya, persiapan berkas sebelum menuju loket akan menghemat waktu lho. Akan sangat membantu jika sebelum menuju Polres/Polsek semua persyaratan dilengkapi dulu. Jadi sambil menunggu nomor antrian dipanggil, berkas yang sudah disiapkan tinggal disusun saja.


Wednesday, 30 January 2019

Ekspektasi VS Realita Pernikahan

Pernah punya impian selangit tentang pernikahan dan kehidupan setelahnya? Bermimpi dapat pasangan ideal nan sempurna, mesra dengan pasangan sepanjang waktu, punya anak-anak pintar lagi menggemaskan, dan sekian mimpi lain yang indah. Setelah menikah, berapa poin impian yang terwujud? Lalu gimana menyikapi impian yang jauh dari harapan?

Saya termasuk yang punya impian tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga, ternyata suami pun punya impian yang serupa. Tapi hanya sebagian yang bisa kami wujudkan, minimal sampai menjelang tahun kelima pernikahan kami. Selebihnya, kami sadar bahwa perjuangan masih panjang!



Tuesday, 22 January 2019

Cabut Gigi Pakai BPJS

Dari sini

Bukan pakai alat pencongkelnya ya bu?? Hehe.

Saya punya ketakutan yang cukup parah sama yang namanya periksa gigi. Padahal gak pernah punya pengalaman menyeramkan sama dokternya, melainkan belum bisa mengontrol takut saya terhadap alat-alat dokter gigi yang selalu bikin sakit berasa semua gigi mau rontok.

Saat kecil saya jarang sekali mau diajak ke dokter gigi. Alhasil gigi saya tidak terawat, banyak juga yang berlubang. Jaman sekolah dulu pernah ditambal, tapi gak bertahan lama alias tambalannya copot. Setelah itu gak pernah saya periksa gigi lagi sampai beberapa waktu lalu terdorong untuk lebih aware sama kesehatan diri sendiri.

Berawal dari cerita teman perjuangan promil yang menyarankan gigi-gigi berlubang sebaiknya ditambal dulu sebelum mulai promil. Trus saya makin terganggu dengan karang gigi dan gigi berlubang yang semakin sering sakit. Akhirnya akhir tahun lalu bertekad mau ke dokter gigi.

Setelah mencari alternatif klinik gigi di sekitar Tambun, pilihan jatuh pada faskes 1 layanan BPJS yang saya dan suami punya. Kami baru setahun ini punya BPJS; dibuatkan sama kantor suami yang baru. Pengalaman sama BPJS juga masih nol. Makanya kami putuskan untuk periksa gigi pakai BPJS, itung-itung mencoba layanan kesehatan ini.

Monday, 21 January 2019

Cerita dari Kampung Inggris - Part 2

Seminggu berada di Kampung Inggris, Pare Kediri terasa menyenangkan buat saya, meskipun kegiatannya cenderung monoton. Tapi ada aja keseruan dan hal-hal baru yang saya temui disana. Maklum, kan ceritanya ini kunjungan kedua rasa perdana. Kunjungan jaman KKL dulu hanya sehari, jadi gak bisa yang mengamati daerah sekitar banget. Datang saat momen liburan seperti kemarin rasanya seru. Ramai, jadi suasana 'kampung Inggris'nya tempat pelajar berkumpul kerasa banget.

 

Lembaga

Saya mulai dari lembaga tempat SMPIT Islamia bekerjasama dulu ya, Arrohman English Center (AEC). Lembaga ini sudah bekerjasama dengan berbagai sekolah femes, kalo saya lihat dari banner yang dipampang di gerbang kantornya. Ini adalah rekomendasi dari sekolah Islam di sekitar Tambun, Bekasi juga. Testimoninya, program di lembaga ini dipadukan dengan kegiatan keIslaman jadi tidak akan menghilangkan ciri khas sekolah. Alasan lain kami memilih lembaga ini karna tempat belajarnya menyatu dengan penginapan sehingga kami gak perlu bolak-balik setiap mau berangkat belajar.

Sayangnya, kami telat reservasi tempat. Kemarin kami menginap di MM House & Resto, penginapan rekanan AEC. Sebetulnya AEC punya penginapan utama yang menyatu dengan kantor pusatnya. Tapi kami keduluan sekolah lain yang sudah reservasi di sana. Kabarnya kalau mau dapat tempat di AECnya untuk holiday program bulan Desember, sekolah sudah harus booking dari Januari. Uhuk. Betapa larisnya lembaga iniihhh....

Well MM House & Resto juga not bad. Hanya tempat belajarnya saja yang tidak kondusif karna gak ada ruang kelas khusus. Siswa belajar di aula, lorong di depan meja makan, dan depan kamar. Kurang pas untuk belajar kalau kata saya mah. Untuk kamar cukup lah, ada kipas angin dan kamar mandi di hampir setiap kamar. Makannya pakai sistem prasmanan. Nah kalau waktunya makan usahakan langsung makan deh. Kemarin saya sempat gak kebagian makan karna telat, keburu diberesin cuy meja makannya. Huh.

Tentang program, kami sepakat AEC sudah menyusun program belajar dengan cukup baik. Namanya cuma seminggu ya, jadi belum kerasa lah hasilnya yang siswa langsung jadi fluent gitu. Tapi at least ada semangat untuk speak up karna disana benar-benar di push untuk try speaking English. Alhamdulillah masih kebawa semangat ngomong Inggrisnya sampai di sekolah :)

Metode pembelajaran juga cukup beragam sih, misalnya: singing, clapping, saying with gesture, saying aloud the words, atau role play. Tutornya semangat, secara jiwa muda menggelora LOL. Materinya cukup sesuai sama materi sekolah, dan ada modul untuk pegangan materi siswa. Tutor disana menghandle semua kegiatan. Jadi siswa kami benar-benar dipegang sama tutor, termasuk kegiatan ibadah hariannya. Kami guru-guru bisa sesekali kasih 'wejangan' sih tapi rasanya tetap dominan para tutor. Pas lah kalau panitia guru yang ikut tidak perlu banyak orang, karna kita tidak begitu terlibat selama program belajar.