Tuesday, 24 May 2016

Guru Kok Ngambek?

Ngambek biasanya diidentikkan dengan anak kecil, yang ditunjukkan dengan ekspresi diam, marah, atau menangis saat keadaan tidak sesuai dengan harapan. Itu sih definisi dari saya pribadi. Selain itu, "Ngambek sering diidentikkan dengan sifat kekanak-kanakan, karena hampir semua anak mengekspresikan rasa tidak senang atau emosinya dengan cara ngambek" (Ariyani Na, dalam Ada yang Suka Ngambek?). Nah kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan yang saya jumpai hanya kata dasarnya yaitu Ambek yang merujuk kepada kata Merajuk, artinya adalah (1). Menunjukkan rasa tidak senang (dengan mendiamkan, tidak mau bergaul). (2) bersungut-sungut atau mengomel. Intinya, ngambek merupakan luapan emosi terhadap hal yang tidak menyenangkan melalui berbagai ekspresi.
Nah... Apakah Anda pernah melihat seorang guru yang ngambek? Apa yang terlintas dalam benak Anda saat itu? Kalau saya sih langsung mikir, "Kok kayak anak kecil ya, begitu aja ngambek!"

Saya pernah menyaksikan guru yang kelihatan ngambek dengan kelas yang diajarnya, sehingga tidak masuk kelas dengan alasan antara lain: anaknya susah diatur, banyak bicara, tidak mau mengajar kelas tersebut, dsb. Alasan yang sebenarnya bisa dibantah. Pertama, anaknya susah diatur. Memang sudah jadi tugas guru untuk memanajemen kelas kan, jadi ya pasti ada yang salah pada guru ketika anak-anak sulit diatur. Kedua, anaknya banyak bicara. Kembali ke poin manajemen kelas, atau strategi guru untuk mengarahkan keaktifan anak dalam berbicara ke arah kreativitas yang lebih positif. Dan ketiga, tidak mau mengajar kelas tertentu. Yah ini kan soal amanah menjalankan tugas. Toh guru tidak punya wewenang untuk memilih di kelas mana dia akan mengajar, kan? Jadi ya guru harus siap ditempatkan mengajar di kelas manapun. Ceileeehh...gaya banget, padahal dalam hati saya juga sering terkesan mengecap kelas tertentu dengan 'enak' atau 'tidak enak', hehehe.

Rasa ngambek yang muncul pada guru tersebut sebenarnya wajar saja, karena manusiawi jika emosi guru bisa tersulut manakala keadaan kelas atau anak-anak tidak dapat dikondisikan. Saya pribadi pernah ngambek terhadap anak-anak, karena kondisi kelas yang tidak dapat dikondisikan, pelanggaran aturan kelas atau pelajaran, motivasi belajar mereka yang sedang turun, atau tanggung jawab mereka yang kurang terhadap tugas maupun proses belajar mengajar. Bentuk ngambek saya hanya memberi teguran untuk seluruh kelas dan meninggalkan kelas setelah memberikan tugas. Saya biasa memberikan mereka kesempatan untuk menjelaskan di depan kelas atau belajar mandiri jika sudah pada titik kekesalan tertinggi, heuheu. Namun pada pertemuan selanjutnya saya sudah kembali masuk dan bersikap biasa lagi dengan mereka, dengan merefleksi kesalahan pada pertemuan sebelumnya. Bahkan pernah pada hari itu juga saya masuk kembali ke kelas karena anak-anak segera nyamperin saya setelah mereka menyadari kesalahannya dan siap menerima pelajaran dengan lebih tertib. :) :) :) 

Nah dari pengamatan saya terhadap teman-teman guru khususnya guru yang suka ngambek tersebut, serta dari pengalaman saya yang pernah ngambek, berikut adalah penyebab rasa ngambek seorang guru.
  1. Kesal dengan perilaku siswa yang dirasa guru tersebut sudah melewati batas
  2. Kecenderungan guru yang lebih senang mengajar siswa tertentu, misal guru pria lebih senang mengajar para siswa ketimbang siswi, dsb
  3. Kemampuan akademik siswa yang belum meningkat
  4. Ada rasa subjektivitas guru dimana ia tidak menyukai siswa tertentu secara pribadi
Penyebab terakhir adalah yang seharusnya dihindari seorang guru, karena alasan tersebut sangat terlarang (Agus Sampurno, dalam Emosi Saat Mengajar di Kelas?). Jika alasan subjektif ini yang dikedepankan, niscaya guru tak akan lagi mampu mendidik siswa dengan setulus hati, karena ada faktor lain yang menyebabkannya tidak bersikap objektif. Pun untuk alasan yang berkaitan dengan kemampuan akademik siswa sebaiknya tidak sampai menyebabkan guru marah dan ngambek, karena peran guru lah untuk membuat siswa mampu belajar untuk menguasai pelajaran. Bila siswa belum mampu mencapai tujuan pembelajaran, satu penyebabnya terletak pada guru yang mungkin belum menggunakan metode & strategi mengajar yang tepat, kurang menggunakan media pembelajaran, dsb.

Lalu sebaiknya sikap apa yang perlu dilakukan guru ketika marah dan ngambek? Menurut pak Agus Sampurno, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat guru marah, diantaranya:
  • Sebab guru marah atau sampai ngambek pada siswa, yakni karena kepeduliaannya, bukan karena sikap subjektivitas guru (ketidaksukaan guru secara pribadi misalnya)
  • Batasi sebab guru marah pada siswa, hanya karena perilaku dan kinerja siswa
  • Tempatkan marah dan ngambek pada posisi puncak, akhir, dan usahakan untuk meminimalisir kejadian ini. Utamakan untuk mengambil napas panjang terlebih dulu saat emosi negatif memuncak
  • Jikalau marah sampai harus dilampiaskan, maka lipatlah tangan ke belakang saat marah. Mengapa? Hal ini untuk menghindari pelampiasan kemarahan guru pada siswa melalui tangan
  • Yang paling penting adalah, tidak membiasakan marah dan ngambek pada siswa, karena bila hal ini kerap dilakukan, niscaya siswa akan kebal dengan usaha kita tsb. Bila awalnya guru berniat untuk merubah mereka ke arah yang lebih, salah-salah malah kita dianggap baper, hihiii....
Dari sisi siswa, ada beberapa tips (yang saya ambil dari sini) yang bisa diterapkan saat menghadapi guru yang marah atau ngambek:
  1. Jangan membantah guru yang sedang marah. Dengarkan, lalu resapi apa yang Ia sampaikan
  2. Introspeksi diri, apa yang membuat guru marah. Jangan ulangi lagi dan minta maaflah
  3. Tetaplah konsentrasi dalam pelajaran. Buang jauh-jauh pikiran bahwa guru tersebut benci, karena sesungguhnya dalam lubuk hati terdalamnya guru selalu punya niat untuk membawa siswanya ke arah yang lebih baik, meskipun marah adalah salah satu caranya.
Sebagai kesimpulan, marah dan ngambek yang guru lakukan boleh diterapkan saat dibutuhkan untuk memberi peringatan kepada siswa mengenai perilaku dan kinerjanya. Namun, janganlah guru mengedepankan marah dan ngambek sebagai strategi untuk mengubah perangai siswa. Cobalah strategi lain, misal mengobrol secara serius dan pribadi dengan siswa untuk mengetahui latar belakang perilaku siswa, berdiskusi dengan guru lain, berkomunikasi dengan pihak manajemen sekolah, dan berkoordinasi dengan orang tua siswa.

Semoga bermanfaat!

2 comments:

  1. Hihi...Aku sebagai guru juga sering ngambek kok, Mbak. Tapi nggak sampai nggak ngajar. Hanya saja memberikan waktu pada diri sendiri maupun anak2 untuk saling introspeksi diri atau membuang rasa amarah yang ada. Biasanya aku keluar kelas dulu, Mbak. Ke kamar mandi atau ke kantor sejenak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahayy samaan nih. Paling keluar kelas sambil tarik napas, cari udara segar & minum. Biar pas balik ke kelas udh turun tensi nya hihii. Makasih sharingnya mbak :)

      Delete